Beranda / Mau Hiburan / Eksplorasi Musik Tanpa Batas di Kolaborasi Balawan dan Reyhan Naufal

Eksplorasi Musik Tanpa Batas di Kolaborasi Balawan dan Reyhan Naufal

Dua musisi Balawan & Reyhan Naufal. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Di atas panggung, harmoni sering kali lahir bukan dari instrumen yang serupa, melainkan dari keberanian membenturkan dua karakter yang bertolak belakang. Hal itulah yang menyergap penonton pada malam penutupan The Papandayan Jazz Festival ke-14 di Bandung, awal Oktober lalu.

Selama 60 menit, dentingan dawai gitar listrik menyatu dengan lengkingan halus harmonika diatonik dalam sebuah percakapan musikal yang presisi sekaligus cair.

Di satu sisi berdiri I Wayan Balawan, 54 tahun, virtuoso gitar asal Gianyar, Bali, yang memopulerkan teknik touch tapping—memetik dan menekan senar gitar secara bersamaan hingga menghasilkan bunyi mirip gamelan.

Di sisi lain, Muhamad Reyhan Naufal, pemuda 28 tahun kelahiran Jakarta yang menjelajah musik lewat tiupan harmonika diatonik modern.

Pertunjukan malam itu bukan sekadar peragaan kemahiran teknis (showmanship). Di balik panggung, kolaborasi ini adalah buah dari lintasan panjang diplomasi musik independen yang menembus batas geografis dan akademis.

Kisah kolaborasi ini tidak dirancang di dalam studio rekaman berteknologi tinggi di Jakarta atau Denpasar, melainkan berawal dari sebuah aula perguruan tinggi di London Pusat.

Pada suatu malam di SOAS Auditorium, SOAS University of London, Balawan tengah memamerkan kepiawaiannya mengolah fusion Barat dan Timur.

Dari deretan kursi penonton, Reyhan yang saat itu mahasiswa sarjana ekonomi (Bachelor of Arts in Economics) di Coventry University, memberanikan diri naik ke panggung untuk melakukan sesi jamming.

Reyhan sama sekali tak mengenyam pendidikan musik formal. Namun, kecintaannya pada instrumen tiup mungil itu mendorongnya mempelajari eksplorasi harmonika diatonik modern (advancing diatonic harmonica) secara mandiri hingga diakui sebagai edukator dan juri internasional.

Pertemuan spontan di London tersebut menjadi titik mula kecocokan visi dan rasa bermusik di antara keduanya.

“Kami tidak menempatkan gitar sebagai melodi utama yang dominan sementara harmonika hanya menjadi latar belakang. Yang terjadi di panggung adalah dialog lisan antar-instrumen—saling memancing, merespons, dan menghormati ruang masing-masing,” ujar Reyhan Naufal.

Pola dialogis itu terlihat jelas dalam setiap penampilan mereka. Gitar Balawan tak lagi bernyanyi sendiri. Ia bertukar frasa nada dengan tiupan harmonika Reyhan.

Keduanya didukung secara solid oleh Doni Joesran pada papan ketik (keys), Dharrian Emilio pada drum, serta Jonathan pada bas. Sinergi ini kian berwarna ketika musisi kawakan seperti maestro harmonika Hari Pochang, violinis Aria Indra, dan drummer Dion Subyakto ikut melebur dalam panggung eksplorasi tersebut.

Jejak panggung duo ini membentang di berbagai perhelatan internasional. Rekam jejak mereka tercatat di Seoul International Harmonica Festival secara berturut-turut pada edisi 2018, 2019, dan 2023, panggung pertunjukan di Melbourne (2019), hingga Asia Pacific Harmonica Festival di Jiangyin, Tiongkok, pada Juli 2026 lalu.

Bagi Balawan yang merupakan alumnus Australian Institute of Music, Sydney (1997) sekaligus pendiri kelompok Batuan Ethnic Fusion, kolaborasi bersama Reyhan menjadi ruang baru untuk menguji batas eksplorasi instrumen tradisi dan modern.

Sementara bagi Reyhan, kolaborasi ini mempertegas posisinya sebagai pembawa wacana baru dalam musik contemporary jazz dan blues berbasis harmonika di Indonesia.

Pengembaraan musikal duo ini belum berencana usai. Pada 28 hingga 31 Oktober 2026, Balawan dan Reyhan Naufal dijadwalkan tampil memamerkan kebolehan mereka di perhelatan Music China yang berlangsung di Shanghai New International Expo Centre, Tiongkok.

Di samping persiapan menuju panggung Shanghai, Reyhan juga menginisiasi perhelatan harmonika daring bertajuk Harmonica Summit pada 26 Oktober 2026.

Bekerja sama dengan musisi harmonika asal Inggris, Adam Glasser, ajang ini dirancang sebagai wadah edukasi dan perjumpaan komunitas harmonika global yang dapat diakses publik melalui kanal @harmonica.nusantara.

Lewat rentetan agenda tersebut, dialog antara gitar dan harmonika ini tidak sekadar menjadi hiburan lintas panggung, melainkan penegas bahwa musik improvisasi Indonesia terus menemukan cara baru untuk bersuara di kancah dunia. []

Artikel ini diolah dan disesuaikan dari siaran pers yang ditulis wartawan musik senior Gideon Momongan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *