Beranda / Mau Hiburan / Aksi Empati The Changcuters untuk Korban Karhutla di Synchronize Fest 2026

Aksi Empati The Changcuters untuk Korban Karhutla di Synchronize Fest 2026

Penampilan The Changcuters di hari pertama Synchronize Fest 2026. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Panggung festival musik berskala besar seringkali dipahami khalayak luas semata sebagai ruang pelarian, tempat di mana ribuan manusia berkumpul untuk melepas penat, bernyanyi bersama, dan merayakan kebebasan dari rutinitas harian.

Namun, di balik dentuman musik yang menghentak dan tata lampu panggung yang memukau, sebuah panggung juga bisa bertransformasi menjadi mimbar nurani.

Inilah yang berhasil dibuktikan oleh grup band rock veteran asal Bandung, The Changcuters, ketika tampil dalam perhelatan akbar Synchronize Fest 2026.

Tampil pada hari pertama penyelenggaraan festival yang dihelat di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, Jumat (16/10), band yang dikenal dengan energi panggung yang tak pernah habis ini menyuguhkan momen yang melampaui batas-batas hiburan konvensional.

Di tengah keriuhan para penonton yang memadati area panggung Dynamic, sang vokalis, Tria Ramadhani, mengambil jeda sejenak dari rangkaian lagu-lagu bertempo cepat yang mereka bawakan.

Alih-alih langsung meluncurkan tembang berikutnya, Tria memilih untuk menggunakan mikrofon di tangannya guna menyuarakan sebuah kepedulian sosial yang tengah luput dari perhatian sebagian masyarakat urban ibu kota: bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mendera saudara-saudara kita di luar Pulau Jawa.

Bencana kebakaran hutan dan lahan bukanlah isu kemarin sore bagi Indonesia. Hingga detik ini, titik-titik api masih terpantau membakar wilayah hutan di sejumlah daerah di Pulau Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

Bencana ekologis ini tidak hanya merusak keanekaragaman hayati dan paru-paru dunia, tetapi juga mendatangkan penderitaan nyata bagi masyarakat setempat.

Kabut asap pekat mengepung permukiman, melumpuhkan aktivitas harian, serta memicu gelombang masalah kesehatan masyarakat, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang menyerang anak-anak dan lansia.

Menyadari realitas pahit tersebut, Tria Ramadhani merasa terpanggil untuk menyuarakan empati dari atas panggung megah festival.

Dengan gaya bahasa yang membumi, tidak menggurui, namun sarat akan ketulusan, ia mengajak ribuan penonton untuk menundukkan kepala sejenak dan mengirimkan energi positif bagi para korban di daerah bencana.

“Semoga hari ini semuanya sehat, aman. Ada baiknya, kalau boleh ya, bukan sok-sokan, tapi ya terserah kalian menilainya gimana. Mari kita doakan saudara-saudara kita yang ada di luar pulau ini. Semoga mereka cepat dipulihkan, teman-teman,” ujar Tria di atas panggung Dynamic, menciptakan keheningan sejenak di tengah lautan manusia yang antusias.

Pernyataan tersebut mencerminkan kerendahan hati seorang musisi yang paham betul bahwa panggung yang ia pijak adalah sebuah privilege—sebuah panggung suara yang memiliki daya jangkau luas. Tria sadar, audiens mungkin memiliki penilaian beragam terhadap apa yang ia sampaikan, namun panggilan kemanusiaan jauh lebih penting daripada sekadar menjaga citra di hadapan publik.

Tidak berhenti pada ajakan untuk berdoa, Tria juga melontarkan uneg-uneg serta kritik sosial yang mewakili kejengkelan publik terhadap pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di balik bencana tahunan tersebut.

Dengan nada setengah berseloroh yang dibalut ketegasan emosional, ia menyampaikan harapan agar bencana segera mereda sekaligus menyasar aktor intelektual di balik pembakaran hutan.

“Semoga kebakaran hutannya cepat berakhir, cepat hilang. Dan semoga kalau itu orang yang membakarnya, juga ikutan hilang,” ucap Tria, yang seketika disambut oleh gemuruh teriakan “Aamiin” secara serentak dari puluhan ribu penonton yang memadati kawasan Gambir Expo Kemayoran.

Respon koor massal tersebut menunjukkan bahwa pesan yang dibawa oleh The Changcuters mendapatkan resonansi yang kuat di hati para penikmat musik.

Bagi Tria, kendati jarak fisik antara Jakarta dan wilayah-wilayah yang terbakar terbentang begitu jauh, ikatan batin sebagai sesama warga negara tidak boleh terputus.

Bantuan tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi bernilai besar; energi batiniah berupa doa tulus pun memiliki signifikansinya sendiri.

“Meskipun kita cuma bantu melalui sebuah energi, sebuah doa yang positif, saya yakin energi itu bisa sampai ke siapapun yang kita inginkan, dan energi itu adalah obat yang paling mujarab,” tutur Tria dengan penuh keyakinan.

Pesan kemanusiaan yang disampaikan malam itu tentu tidak mengurangi kualitas pertunjukan seni yang disuguhkan oleh The Changcuters.

Sebagai band yang telah malang melintang di industri musik tanah air selama hampir dua dekade, formasi yang digawangi oleh Tria Ramadhani (vokal), Dipa Nandastyra (bas), Muhammad Iqbal (gitar), Arlanda Ghazali Langitan (gitar), dan Erick Nindyoastomo (drum) ini tahu persis bagaimana menjaga keseimbangan antara substansi pesan dan hiburan penonton.

Sejak menit pertama menjejakkan kaki di panggung Dynamic, mereka langsung menghentak lewat nomor-nomor andalan yang dihafal di luar kepala oleh para penggemar setianya.

Lagu-lagu ikonis masa lalu seperti “Racun Dunia” dan “Parampampam” dibawakan dengan aransemen rapat yang memancing koor massal dari penonton lintas generasi.

Kemeriahan berlanjut tanpa henti manakala band asal Bandung ini menggelontorkan deretan repertoar populer lainnya. Mulai dari lagu “Sebagai”, “Suka-Suka”, “London”, “Ruang Riang”, “I Love U Beibeh”, hingga ditutup secara megah dengan tembang penuh gelora bertajuk “Gila-Gilaan”.

Penampilan The Changcuters di Synchronize Fest 2026 pada akhirnya memberikan pelajaran berharga: bahwa karya seni dan hiburan rakyat dapat berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Di saat alam negeri ini merintih karena musibah karhutla, langkah kecil Tria dan kawan-kawan di atas panggung membuktikan bahwa seni tetap memiliki nurani yang hidup dan berpihak kepada kemanusiaan. []

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *