Jakarta – Sabtu pagi yang tenang di Flores berubah menjadi kepanikan. Tepat pukul 04:58 WIB, gempa M7,7 mengguncang kawasan timur laut Nagekeo. Kedalaman hanya 15 km membuat guncangan terasa kuat hingga Ende, Bajawa, Kupang, bahkan Bali dan Sulawesi Selatan.
Di Maurole-Ende, air laut sempat naik hampir satu meter. BMKG segera mengeluarkan peringatan dini tsunami. Namun pada pukul 07:30 WIB, peringatan dicabut.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menenangkan warga: “BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak.”
Sejak gempa utama, 37 gempa susulan tercatat. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengingatkan bahwa wilayah busur belakang Flores memang rawan: “Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7,5 yang menimbulkan kerusakan dan tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores.”
Di media sosial, kabar bohong tentang prediksi gempa susulan pukul 09.00 WITA menyebar cepat. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menegaskan: “Informasi tersebut tidak benar atau hoaks. Secara ilmiah gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi secara tepat.”
Warga di Ende dan Ruteng berlari keluar rumah, sementara di Kupang dan Maumere guncangan membuat orang panik. Meski belum ada laporan kerusakan besar, trauma gempa 1992 kembali menghantui.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada, menjauhi pantai, dan hanya mengikuti informasi resmi. []









