Beranda / Mau Tahu Lebih / Perjalanan Baru Dimas Supartono, dari Studio Musik ke Bisnis Properti Nuansa Indah Village

Perjalanan Baru Dimas Supartono, dari Studio Musik ke Bisnis Properti Nuansa Indah Village

Musisi Dimas Supartono di komplek properti Nuansa Indah Village. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Duduk di dalam ruang studio musik pribadinya, jemari Dimas Supartono tampak tenang menata perangkat audio. Di sekelilingnya, deretan instrumen dan lembaran partitur seolah merekam jejak perjalanan panjang hidupnya di dunia seni.

Namun, percakapan sore itu tidak hanya berkisar pada aransemen akor atau lirik lagu. Ada lembaran baru yang jauh lebih megah dan menantang yang sedang ia buka saat ini, yakni membangun sebuah kawasan hunian mandiri di ujung selatan Depok.

Sebagai putra dari almarhum musisi terkemuka Tono Supartono, darah seni mengalir deras di tubuh Dimas. Akan tetapi, tantangan hidup membawanya menyeberang ke ranah yang selama ini asing bagi sebagian besar seniman—yakni dunia bisnis properti skala besar.

Melalui bendera PT Karya Perkasa Indonesia, Dimas kini bertanggung jawab penuh atas pengembangan kawasan perumahan Nuansa Indah Village di Sawangan.

Transisi dari balik meja produser rekaman menuju ruang rapat direksi perusahaan pengembang tentu bukan perkara mudah. Ketika ditanya mengenai alasan di balik keputusannya terjun ke bisnis properti, Dimas tersenyum ringan.

Ia mengakui bahwa semua ini berawal dari kepekaan menangkap momentum yang datang pada beberapa tahun silam, tatkala peluang pembebasan lahan di wilayah Depok terbuka lebar dengan valuasi harga yang sangat rasional.

“Karena adanya kesempatan dan peluang yang baik di daerah Depok yang sedang saya kembangkan. Mengingat pembebasan tanah di beberapa tahun yang lalu dengan harga yang cukup baik,” cerita Dimas Supartono.

Dari luasan total lahan mencapai 26 hektare yang dikuasai perusahaan, sekitar 7 hektare telah diubah menjadi kawasan hunian produktif. Saat ini, denyut pembangunan berpusat di Cluster Cinnamon, sebuah kawasan klaster eksklusif yang merangkum sekitar 200 unit rumah di atas hamparan seluas 3,5 hektare.

Dengan mengusung konsep lingkungan asri yang diperkaya fasilitas kolam renang dan panorama danau, Nuansa Indah Village dirancang untuk merespons tingginya kebutuhan keluarga kelas menengah akan hunian yang nyaman.

Rumah contoh di komplek properti Nuansa Indah Village. (Foto: Istimewa)
Rumah contoh di komplek properti Nuansa Indah Village. (Foto: Istimewa)

Dimas bersyukur bahwa komitmen tim di lapangan mampu menjaga konsistensi pengerjaan sesuai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan dalam rencana kerja korporasi.

“Alhamdulillah, bisa mencapai target sesuai yang kita rencana. Target ke depannya mengembangkan cluster-cluster setelah ini, dan juga beberapa fasilitas umum yang masih dalam pengembangan,” ujarnya penuh rasa syukur.

Meski proyek propertinya berjalan sukses, Dimas secara terbuka membagikan sisi humanis dan tantangan mental yang dihadapinya selama beradaptasi. Ia membandingkan proses kreatif di industri musik yang serba cepat dengan dunia konstruksi bangunan yang menuntut kesabaran ekstra tinggi dan permodalan masif.

“Ketika membuat musik bisa diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan. Lain halnya dalam membuat rumah, perlu waktu yang lebih lama dan kesiapan modal yang cukup,” jelasnya dengan jujur.

Perbedaan siklus inilah yang membentuk kedisiplinan baru dalam diri Dimas. Membangun rumah bukan sekadar mendirikan tembok dan atap, melainkan membangun kepercayaan konsumen, mengelola rantai pasok material, serta memastikan stabilitas keuangan jangka panjang.

Kendati kesibukannya di sektor properti kian menyita waktu, Dimas memastikan bahwa dunia tarik suara dan produksi audio tidak akan pernah terhapus dari hari-hari kehidupannya. Tumbuh dalam ekosistem keluarga seniman bersama almarhum Tono Supartono telah menanamkan ikatan emosional yang kuat terhadap perkembangan industri musik nasional maupun global.

Bagi Dimas, properti dan musik memiliki porsi fungsi yang berbeda secara filosofis namun saling melengkapi dalam memberikan kepuasan hidup.

“Kalau properti ada beberapa peluang dan keuntungan yang bisa diraih, sedangkan musik adalah passion,” ungkapnya tegas.

Dedikasi tersebut dibuktikan lewat konsistensinya menelurkan karya. Pada tahun 2024, ia sukses meluncurkan lagu berjudul “Jujur Saja” yang dinyanyikan dengan apik oleh Ira Batti. Dan kini, ia kembali memberikan kabar baik bagi para penikmat musik tanah air bahwa karya terbarunya siap diluncurkan dalam waktu dekat.

“Tentu siap. Ditunggu ya, single-single berikutnya dalam waktu dekat ini akan rilis lagu berikutnya,” pungkasnya menutup perbincangan dengan senyuman hangat.

Melalui perjalanan hidupnya yang unik ini, Dimas Supartono membuktikan bahwa seseorang tidak harus membatasi potensinya pada satu kotak profesi saja.

Di satu sisi, ia adalah pengembang properti yang tangguh merancang masa depan kawasan Sawangan, di sisi lain, ia tetaplah seorang maestro musik yang setia merawat melodi demi melodi di dalam hidupnya. []

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *