Beranda / Mau Hiburan / Addie MS Hidupkan Simfoni Legenda Lewat Konser Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen

Addie MS Hidupkan Simfoni Legenda Lewat Konser Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen

Dokumentasi konser Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Ada saat-saat dalam sejarah kebudayaan ketika karya seni dari masa lalu menolak untuk menjadi fosil museum. Mereka hidup kembali, bernapas, dan berbicara kepada telinga generasi yang bahkan belum lahir ketika lagu-lagu tersebut pertama kali direkam di studio Abbey Road atau disiarkan dari gelombang radio era 1970-an.

Minggu malam (1/11) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, adalah salah satu dari sedikit momen magis tersebut.

Lewat pergelaran bertajuk “Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen”, kita disadarkan kembali bahwa batas antara musik pop populer dan musik serius (simfoni) sesungguhnya hanyalah ilusi.

Di tangan Addie MS dan puluhan pemusik Twilite Orchestra, warisan abadi John Lennon, Paul McCartney, Freddie Mercury, dan Brian May diterjemahkan ulang ke dalam bahasa universal orkestra yang megah, menyentuh, dan menggetarkan sukma.

Fenomena kebudayaan yang paling mencolok dari konser ini bukanlah sekadar fakta bahwa tiketnya ludes terjual dalam waktu singkat—12 menit saja, melainkan siapa yang duduk di dalam gedung pertunjukan.

Kita melihat anak-anak muda Gen Z berdampingan dengan para penikmat musik senior yang mungkin dahulu mendengarkan piringan hitam The Beatles di masa mudanya.

Musik berfungsi sebagai jaring pengikat lintas generasi. Ketika aransemen megah menggulung seisi ruangan, perbedaan usia melebur. Semua orang merasakan getaran emosi yang sama, menikmati kekayaan harmoni yang diramu dengan ketelitian tingkat tinggi oleh sang konduktor.

Addie MS, yang tahun ini merayakan 35 tahun perjalanan Twilite Orchestra, melihat proyek ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus eksplorasi artistik yang mendalam.

“Merupakan sebuah kebahagiaan bagi kami dapat menghadirkan karya-karya The Beatles dan Queen melalui interpretasi orkestra yang memberikan dimensi musikal berbeda, tanpa menghilangkan karakter dan jiwa dari karya aslinya. Proses menggabungkan kekuatan orkestra dengan lagu-lagu yang telah begitu dekat dengan pendengar lintas generasi menjadi pengalaman artistik yang sangat berarti bagi kami,” tutur Addie MS, Music Director & Conductor of Twilite Orchestra.

Lebih lanjut, ia menekankan visi kultural di balik perayaan tiga setengah dekade orkestranya.

“Saya berharap pertunjukan ini tidak hanya memberikan pengalaman musikal yang mengesankan, tetapi juga semakin memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik orkestra. Terlebih, konser ini menjadi bagian dari perayaan 35 tahun perjalanan Twilite Orchestra, sebuah momentum yang sangat istimewa bagi kami.”

Kekuatan sebuah konser simfoni tidak hanya terletak pada gesekan busur biola atau tiupan alat musik tiup logam, melainkan bagaimana suara manusia menyatu di dalamnya. Kehadiran Marcello Tahitoe dan Sandhy Sondoro memberikan warna vokal yang berakar kuat pada tradisi musik populer kontemporer, namun diperlakukan dengan penghayatan tingkat tinggi.

Marcello mengungkapkan kekagumannya terhadap bagaimana perpaduan ini melahirkan perspektif baru.

“Bisa membawakan karya-karya The Beatles dan Queen bersama Twilite Orchestra merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Lagu-lagu ini memiliki karakter dan kekuatan emosional yang sangat khas, sehingga membawakannya dengan iringan orkestra memberikan perspektif baru sekaligus tantangan tersendiri. Melihat bagaimana karya-karya legendaris ini kembali dinikmati dalam suasana yang berbeda menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari pertunjukan istimewa ini dan berbagi pengalaman musikal tersebut bersama para penonton,” ungkap Marcello Tahitoe.

Sementara itu, Sandhy Sondoro merefleksikan bagaimana instrumen orkestra memberikan kedalaman eksistensial pada setiap lirik yang ia lantunkan.

“Bagi saya, tampil bersama Twilite Orchestra dalam membawakan karya-karya The Beatles dan Queen adalah pengalaman yang sangat istimewa. Ada kekuatan musikal yang berbeda ketika sebuah lagu diinterpretasikan bersama orkestra, karena setiap instrumen memberikan warna dan kedalaman emosi tersendiri. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa musik yang hebat akan selalu memiliki ruang untuk berkembang dan menemukan pendengarnya di setiap generasi. Saya berharap apa yang kami hadirkan di panggung dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi semua yang menyaksikannya,” ujar Sandhy Sondoro.

Nuansa emosional tersebut semakin lengkap dengan keterlibatan LiLo sebagai pembawa acara sekaligus pengisi panggung, serta penampilan spesial dari tokoh bisnis Tony Wenas yang membawakan nomor-nomor ikonik penuh penghayatan.

Sebuah pertunjukan berkelas tidak lahir di ruang hampa. Diperlukan ekosistem yang sehat untuk merawat perhelatan seni berskala besar di Indonesia. Peran TipTip selaku promotor, didukung oleh BRI Prioritas sebagai powering partner, serta Adinda Bakrie Foundation dan PLN Mobile sebagai sponsor, menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama dalam menjaga keberlangsungan ekosistem kebudayaan.

Astri Novanita, SVP Entertainment Business TipTip, merangkum esensi dari kerja kolektif tersebut.

“Kami bersyukur Twilite Orchestra Presents The Beatles & Queen dapat terselenggara dengan baik dan memperoleh sambutan yang sangat positif dari publik, yang sebelumnya juga tercermin dari penjualan tiket yang habis dalam waktu dua belas menit. Bagi kami, keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya diukur dari antusiasme penjualan tiket, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang dihadirkan kepada penonton. Kami mengapresiasi dedikasi seluruh musisi, tim produksi, serta dukungan para mitra yang telah berkontribusi dalam mewujudkan konser ini. Semoga pertunjukan ini menjadi salah satu pengalaman musikal yang berkesan sekaligus memperkuat apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan orkestra,” tutur Astri Novanita.

Ketika tirai malam itu ditutup dan gema koor penonton menyanyikan “Hey Jude” perlahan mereda di Tennis Indoor Senayan, kita menyadari satu hal penting: kebudayaan tidak diukur dari seberapa tua usia sebuah karya, melainkan dari seberapa besar kemampuan karya tersebut untuk terus relevan, menyatukan manusia, dan merayakan kemanusiaan itu sendiri.

Twilite Orchestra telah membuktikan bahwa warisan dunia itu tetap hidup dan bernyanyi di bumi Indonesia. []

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *