mautau ID
  • Mau Viral
  • Mau Hiburan
  • Mau Canggih
  • Mau Update
  • Mau Piknik
mautau ID
mautau ID
  • Mau Viral
  • Mau Hiburan
  • Mau Canggih
  • Mau Update
  • Mau Piknik

  • Mau Update

Stigma dan Diskriminasi yang Harus Berakhir, Guna Akhiri Epidemi HIV

  • Minggu, 21 Juni 2026 - 18:24 WIB
  • 56 views
Sekretaris Badan Pengurus Nasional PBHI sekaligus Koordinator Program CSS/HR, Totok Yuliyanto.
Total
0
Shares
0
0
0
0
0
0
0
0

Mautau.id – Perkembangan medis terkini telah mengubah wajah HIV dari ancaman mematikan menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola. Meski demikian, stigma dan diskriminasi terhadap para penyintas justru masih menjadi penghalang utama yang belum terselesaikan di masyarakat.

Persoalan terbesar saat ini justru bukan lagi virusnya, melainkan stigma dan perlakuan tidak adil yang masih dialami Orang dengan HIV (ODHIV).

Sekretaris Badan Pengurus Nasional Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) sekaligus Koordinator Program CSS/HR, Totok Yuliyanto, menegaskan bahwa stigma dan diskriminasi menjadi hambatan serius dalam upaya pengendalian HIV di Indonesia.

Menurutnya, dengan terapi antiretroviral (ARV) yang dijalani secara teratur, ODHIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang panjang. Namun, kemajuan medis tersebut belum diiringi dengan perubahan sikap sosial dan kebijakan publik.

“Tantangan terbesar yang dihadapi ODHIV dan populasi kunci bukan lagi HIV itu sendiri, melainkan stigma, diskriminasi, kriminalisasi, dan berbagai hambatan struktural yang menghalangi akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan hak asasi manusia,” kata Totok, Jumat (19/6/2026).

Ia mengungkapkan, Data Stigma Index 2.0 Indonesia 2023 menunjukkan sebanyak 19,5 persen ODHIV mengalami diskriminasi saat mengakses layanan HIV dan 15,9 persen mengalami diskriminasi dalam layanan kesehatan umum.

Bentuk diskriminasi tersebut meliputi perlakuan yang merendahkan, penolakan layanan, hingga pelanggaran kerahasiaan status HIV. Kondisi ini menyebabkan banyak orang takut melakukan tes HIV, enggan mengakses layanan kesehatan, bahkan menghentikan pengobatan karena khawatir menghadapi stigma dan perlakuan yang tidak adil.

Totok menjelaskan, kelompok populasi kunci seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), transpuan, dan kelompok rentan lainnya menghadapi tantangan yang lebih berat karena mengalami stigma berlapis.

“Mereka sering menghadapi stigma berlapis yang membuat mereka takut identitasnya terbuka, kehilangan pekerjaan, ditolak keluarga, atau menjadi sasaran persekusi sosial. Akibatnya, akses terhadap layanan tes, konseling, dan pengobatan HIV menjadi semakin terbatas,” ujarnya.

Ia menilai situasi tersebut diperparah oleh sejumlah kebijakan dan praktik sosial yang masih memandang populasi kunci sebagai kelompok yang harus diawasi atau dihukum. Berbagai razia yang mengatasnamakan ketertiban umum maupun kesusilaan, kata dia, justru menciptakan rasa takut yang menjauhkan kelompok rentan dari layanan kesehatan.

Padahal, berbagai bukti yang dihimpun oleh UNAIDS menunjukkan bahwa stigma, diskriminasi, hambatan hukum, dan kriminalisasi merupakan faktor utama yang menghambat pengendalian epidemi HIV. Sebaliknya, negara yang menerapkan pendekatan berbasis hak asasi manusia, memperluas akses layanan kesehatan, dan melindungi populasi kunci dari diskriminasi terbukti lebih berhasil menekan angka infeksi baru HIV dan kematian akibat AIDS.

Totok menegaskan, epidemi HIV tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga faktor sosial, ekonomi, hukum, dan politik.

“Selama masyarakat masih memandang ODHIV dan populasi kunci sebagai kelompok yang harus dijauhi, disalahkan, atau dihukum, maka upaya pencegahan dan pengobatan HIV akan terus menghadapi hambatan serius,” ucapnya.

Kondisi tersebut juga dinilai menghambat pencapaian target global UNAIDS 95-95-95, yakni 95 persen ODHIV mengetahui statusnya, 95 persen mendapatkan pengobatan, dan 95 persen yang menjalani pengobatan mencapai supresi virus.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2023, dari estimasi 515.455 ODHIV di Indonesia, baru sekitar 377.650 orang yang telah teridentifikasi. Artinya, sekitar 27 persen ODHIV belum mengetahui statusnya atau belum terhubung dengan layanan kesehatan.

“Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masih terdapat ratusan ribu orang yang belum memperoleh akses terhadap tes, pengobatan, maupun dukungan yang mereka butuhkan,” kata Totok.

Selain berdampak pada individu, ia menambahkan, stigma dan diskriminasi juga menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang besar. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan meningkatkan biaya kesehatan, menurunkan produktivitas masyarakat, menambah beban keluarga, serta menghambat pengendalian epidemi secara nasional.

Karena itu, Totok menekankan bahwa penghapusan stigma dan diskriminasi bukan hanya persoalan hak asasi manusia, tetapi juga menjadi strategi kesehatan masyarakat yang efektif dan efisien.

Sebagai organisasi yang berkomitmen pada pemajuan hak asasi manusia, PBHI terus mendorong perlindungan dan pemenuhan hak kelompok rentan, termasuk populasi kunci yang terdampak HIV, melalui bantuan hukum dan advokasi kebijakan strategis.

Totok menegaskan, upaya mengakhiri epidemi HIV/AIDS tidak akan berhasil selama stigma, diskriminasi, kriminalisasi, dan kebijakan yang menyasar populasi kunci masih terus berlangsung.

“Ketika kelompok rentan dilindungi, didengar, dan diperlakukan secara adil, akses terhadap layanan pencegahan dan pengobatan akan semakin terbuka sehingga tujuan kesehatan masyarakat dapat dicapai secara lebih efektif,” pungkasnya.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Pin it 0
Share 0
Share 0
Share 0
Share 0
Share 0
Share 0
Related Topics
  • HIV
  • ODHIV
  • PBHI
  • Totok Yuliyanto
uzh uzh

Mau Tau Lebih
Ilustrasi Sepak Bola. (Foto: Istimewa)
Mau Baca
  • Mau Update

Pembukaan Piala Dunia 2026: Spektakel Tiga Negara

  • Jumat, 12 Juni 2026 - 16:29 WIB
Suasana grand opening pop-up store, Hello Kitty X Jisoo di Jakarta. (Foto: Istimewa)
Mau Baca
  • Mau Update

Pop-up Store Merchandise Kolaborasi Hello Kitty x Jisoo Hadir di Jakarta

  • Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:37 WIB
Mau Baca
  • Mau Update

PAPPRI Depok siap membawa inspirasi musisi

  • Sabtu, 16 Mei 2026 - 11:23 WIB
Pendiri Reallist Media, Eno Suratno Wongsodimedjo. (Foto: Istimewa)
Mau Baca
  • Mau Update

Mengenal Reallist Media, Situs Berita Digital dengan Perspektif Segar

  • Senin, 2 Maret 2026 - 00:23 WIB
Kontingen Indonesia mencatatkan sejarah gemilang dalam ajang Cheerleading World Championships (CWC) XII 2025. (Foto: Istimewa)
Mau Baca
  • Mau Update

Kontingen Indonesia Ukir Sejarah di Cheerleading World Championships (CWC) XII Jepang

  • Jumat, 26 Desember 2025 - 22:36 WIB
Suasana konferensi pers peluncuran Jakarta Esport: New Heights 2025. (Foto: JA)
Mau Baca
  • Mau Update

Jakarta Esport: New Heights 2025 Resmi Digelar, Langkah Strategis Menuju Ekosistem Digital Unggul

  • Selasa, 9 Desember 2025 - 14:40 WIB
Mau Baca
  • Mau Update

“Dia Lagi AJa” Program Komedi Khas Loka TV Channel 26 UHF.

  • Minggu, 19 Oktober 2025 - 16:23 WIB
Mau Baca
  • Mau Update

Kontroversi Pestapora 2025, Banyak Musisi Batal Manggung dan Berujung Permintaan Maaf

  • Minggu, 7 September 2025 - 20:51 WIB

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mau Update
  • Stigma dan Diskriminasi yang Harus Berakhir, Guna Akhiri Epidemi HIV
    • Minggu, 21 Juni 2026 - 18:24 WIB
  • Ilustrasi Sepak Bola. (Foto: Istimewa)
    Pembukaan Piala Dunia 2026: Spektakel Tiga Negara
    • Jumat, 12 Juni 2026 - 16:29 WIB
  • Suasana grand opening pop-up store, Hello Kitty X Jisoo di Jakarta. (Foto: Istimewa)
    Pop-up Store Merchandise Kolaborasi Hello Kitty x Jisoo Hadir di Jakarta
    • Sabtu, 16 Mei 2026 - 19:37 WIB
Mau Hiburan
  • Daftar harga tiket konser Waktu Yang Dinanti: Final Chapter milik grup band UNGU. (Foto: Istimewa)
    Penjualan Tiket Presale Konser UNGU 30 Tahun Resmi Dibuka
    • Senin, 6 Juli 2026 - 01:12 WIB
  • Poster konser Waktu Yang Dinanti: Final Chapter milik grup band UNGU. (Foto: Istimewa)
    UNGU Bakal Rayakan 30 Tahun Berkarya dengan Konser Tunggal
    • Minggu, 5 Juli 2026 - 00:58 WIB
  • Personel DNA, Mister Aloy dan JayJax. (Foto: Istimewa)
    DNA (Mister Aloy dan JayJax) Rilis Album OURORA; Berisi 18 Trek Lintas Genre
    • Kamis, 2 Juli 2026 - 15:20 WIB
Mau Viral
  • Tak Habis Akal, Yos Suprapto Tetap Pamerkan Karya Lukisannya di Galeri Nasional: Tiga Terjual!
    • Rabu, 25 Desember 2024 - 17:49 WIB
  • Adrian Maulana Dicap Kere Naik KRL ke Kantor, Tapi Malah Berasa Keren
    • Jumat, 13 Desember 2024 - 06:54 WIB
  • Ratu FTV Talitha Curtis Kini Jualan Risol, Sudah Waktunya Bangkit
    • Jumat, 13 Desember 2024 - 06:14 WIB
Mau Canggih
  • Suasana peluncuran Q-SYS Experience Center di Melodia Musik Pondok Indah. (Foto: Istimewa)
    CSA Luncurkan Q-SYS Experience Center di Melodia Musik Jakarta
    • Kamis, 16 April 2026 - 20:32 WIB
  • Jangan Stress Kalau Terlanjur Hapus Chat Whatsapp, ternyata Bisa Dikembalikan
    • Minggu, 7 September 2025 - 21:04 WIB
  • Nokia X700 5G akan segera mengguncang pasar hp 2 jutaan
    • Kamis, 22 Mei 2025 - 10:54 WIB
Mau Piknik
  • Cari Tempat Wisata Dekat Stasiun? Ke Nambo Bogor Saja
    • Rabu, 25 Desember 2024 - 18:14 WIB
  • Menu Makanan Sederhana Untuk Mendampingi Pergantian Malam Tahun Baru
    • Jumat, 13 Desember 2024 - 13:31 WIB
  • Ini Dia Wisata Alam di Bogor yang Harga Tiketnya Masih Murah Jelang Tahun Baru 2025
    • Jumat, 13 Desember 2024 - 08:10 WIB
mautau ID
  • Redaksi
  • Hubungi
  • Privacy Policy
© 2024. mautau.id - All rights reserved. Member of TAB

Input your search keywords and press Enter.