Jakarta – Ada suatu perasaan hangat yang menyeruak tatkala angin malam bulan Oktober berhembus di area Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, pada hari Minggu (18/10) malam.
Ribuan pasang mata menatap ke arah panggung Dynamic Stage dengan binar antisipasi yang terpancar jelas di wajah mereka.
Di sanalah, dalam perhelatan akbar Synchronize Fest 2026, sebuah babak baru dalam sejarah panggung musik Indonesia sedang ditulis oleh salah satu band pop-rock paling dicintai generasi 2000-an: Vierratale.
Bagi banyak penonton yang hadir, Vierratale bukan sekadar band; mereka adalah lembaran diari masa muda yang penuh dengan kenangan cinta monyet, patah hati, dan pencarian jati diri. Ketika intro lagu “Seandainya” mengalun lembut dari instrumen panggung, waktu seolah ditarik mundur ke masa di mana lagu-lagu bertema cinta melankolis mendominasi seluruh stasiun radio nasional.
Sambutan penonton yang bersorak serempak menjadi bukti bahwa melodi-melodi ciptaan band ini memiliki keabadian yang melampaui batas waktu tren sesaat.
Namun, malam itu Vierratale tidak datang hanya untuk bernostalgia dengan masa lalu. Mereka datang untuk merayakan kebersamaan, menyebarkan energi positif, dan memberikan kejutan artistik yang akan dikenang sepanjang sejarah festival.
Suasana langsung mencair ketika sang vokalis, Widi, maju ke depan mikrofon dan menyapa para penggemar dengan gaya bicaranya yang santai, blak-blakan, dan penuh kehangatan.
“Terima kasih buat teman-teman semua yang ada di sini. Seperti biasa, kita sapa dulu, halo sebelah kanan, sebelah kiri, yang di tengah. Pokoknya ini harinya kalian semua, tentunya harinya Vierratale juga. Kita senang banget ke sini ketemu sama kalian semua yang kece-kece dan luar biasa. Synchronize selalu terbaik,” sapa Widi, membuat ribuan penonton merasa disapa secara personal di tengah lautan manusia.
Di sela-sela lagu, Widi menyempatkan diri untuk menyelipkan obrolan ringan yang menggelitik namun sarat makna. Ia mengingatkan para penonton yang sedang menikmati konser untuk tetap membumi dan memikirkan sesama.
Sebuah pesan sederhana tentang kehidupan yang disampaikan dengan gaya khas anak muda, menciptakan tawa sekaligus perenungan kecil di antara riuhnya penonton.
“Jangan lupa doain saudara-saudari kalian yang tidak seberuntung kalian. Kalian di sini masih bisa kentut sambil nonton konser, masih bisa ketemu mantan mungkin. Jadi jangan sombong, tetap bersyukur ya,” tutur Widi, yang langsung disambut derai tawa hangat dari seluruh penjuru lapangan.
Tidak mau kalah dengan sang vokalis, Kevin Aprilio selaku keyboardist dan motor penggerak band turut mengambil ruang bicara. Dengan senyum khasnya, Kevin mengajak seluruh hadirin untuk menaikkan doa bersama, memohon ketenangan dan kebangkitan bagi bangsa Indonesia di tengah berbagai dinamika kehidupan yang tengah diuji.
Pesan persatuan ini mengalir begitu natural, menjadikan konser tersebut terasa lebih intim dari sekadar pertunjukan hiburan komersial.
“Senang banget hari ini bisa main di Synchronize, dan hari ini banyak kolaborasi di panggung. Kita berdoa sama-sama ya, semoga Indonesia bisa cepat selesai dari masalah ini ya. Soalnya kita-kita ini cuma bisa bersuara dikit. Semoga semua tetap sehat selalu dan berkah selalu,” ungkap Kevin sebelum kembali menempatkan jemarinya di atas tuts keyboard, mengantar penonton masuk ke dalam tembang “Dengarkan Curhatku”.
Bagian paling emosional dan ditunggu-tunggu dalam set penampilannya malam itu adalah kejutan kolaborasi lintas generasi. Dunia musik Indonesia dibangun di atas fondasi persahabatan dan kekeluargaan yang erat, dan Vierratale menerjemahkan filosofi ini secara nyata dengan membawa klan besar Slank ke atas panggung Dynamic Stage.
Momen magis ini dimulai tatkala Mezzaluna, penyanyi muda berbakat yang juga putri dari Bimbim Slank, melangkah anggun ke atas panggung. Bersama Vierratale, Mezzaluna menyumbangkan suara merdunya dalam lagu “Bersamamu”.
Perpaduan vokal yang segar dan penuh penjiwaan membuat lagu tersebut terasa hidup kembali dalam balutan nuansa modern.
Belum sempat penonton mereda dari kekaguman tersebut, kejutan berikutnya datang dalam wujud yang jauh lebih besar. Vokalis legendaris Slank, Kaka, naik ke atas panggung untuk membawakan lagu ikonis “Kesepian”. Kehadiran Kaka mengubah atmosfer panggung menjadi arena rock and roll yang megah, memadukan kelembutan pop Vierratale dengan kekuatan vokal rock yang matang.
“Masih manis, manis banget. Untuk lagu berikut ini kita ditemani ya sama super legend, the one and only, Kaka,” seru Widi penuh antusias, memperkenalkan sang idola lintas generasi.
Kegembiraan malam itu semakin lengkap ketika penggebuk drum legendaris, Bimbim Slank, turut bergabung di atas panggung untuk melengkapi formasi mega-kolaborasi. Bersama-sama, Widi, Kaka, dan Mezzaluna menyanyikan lagu legendaris Slank “I Miss U But I Hate U”.
Pemandangan tiga musisi dari generasi dan latar belakang berbeda bernyanyi bersama di bawah satu panggung memberikan gambaran nyata tentang indahnya harmoni dalam keberagaman musik Indonesia.
Menjelang akhir malam, Vierratale menutup rangkaian penampilannya dengan nomor-nomor andalan seperti “Rasa Ini”, “Terlalu Lama”, dan ditutup secara manis oleh lagu “Jadi Yang Kuinginkan”.
Malam itu di Gambir Expo Kemayoran, Vierratale tidak hanya merayakan karya-karya mereka, tetapi juga merajut kisah persahabatan, keluarga, dan cinta terhadap musik yang akan terus dikenang oleh setiap jiwa yang hadir. []








