Jakarta – Ada sesuatu yang sederhana namun penuh makna dalam karya terbaru Daniel Rumbekwan berjudul “Rumput Liar”. Lagu ini, yang akan dirilis pada 30 September 2026, bukan sekadar musik, melainkan refleksi tentang alam, manusia, dan keteguhan untuk terus bertahan.
Rumput liar sering dianggap pengganggu. Ia tumbuh di celah tembok, retakan aspal, sela trotoar, bahkan di atap rumah. Namun, meski diinjak, dicabut, atau diabaikan, rumput tetap tumbuh. Daniel melihat simbol keteguhan itu sebagai cermin kehidupan manusia.
“Aku tetap tumbuh” bukan hanya kalimat dalam lirik, tetapi juga mantra tentang keberanian untuk bertahan meski keberadaan tidak selalu diterima.
Dalam liriknya, Daniel menyoroti kerusakan lingkungan yang dilakukan manusia. “Perusak alam, besar-besaran, cepatlah sadar” menjadi seruan yang lugas. Ia menekankan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas masyarakat, tetapi juga pemerintah.
“Kalau pembangunan merusak lingkungan, pemerintah juga harus bertanggung jawab. Jangan hanya masyarakat yang terus diminta sadar,” ujarnya.
Pesan ini tidak hadir dalam bentuk rumit. Daniel memilih jalan sederhana: rumput liar sebagai metafora. Rumput yang sering dilewati begitu saja ternyata bisa menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki caranya sendiri untuk bertahan.
Proses kreatif lagu ini dilakukan di Whiplash Studio, dengan mixing dan mastering oleh Wido Setyasmoro. Daniel juga menegaskan konsistensinya terhadap isu lingkungan melalui keterlibatannya dalam gerakan No Music On a Dead Planet.
Rumput Liar bukan hanya tentang tumbuhan. Ia adalah refleksi tentang manusia yang berjuang di tengah tekanan sosial, tentang kelompok yang tetap bertahan meski dianggap tidak penting, dan tentang alam yang terus mencari jalannya meski dirusak.
Daniel ingin membawa persoalan lingkungan ke dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian. Ia tidak menyampaikan pesan dengan jargon rumit, melainkan lewat cerita sederhana yang bisa dipahami siapa saja.
“Rumput yang tumbuh di pinggir jalan, di antara beton dan aspal, ternyata bisa menjadi pengingat bahwa alam selalu memiliki caranya sendiri untuk bertahan,” tuturnya.
Dengan energi yang jujur dan lirik yang tajam, single “Rumput Liar” hadir sebagai karya yang menegaskan bahwa musik dapat menjadi medium refleksi sosial sekaligus seruan untuk lebih peduli terhadap alam.
Lagu ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran publik bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dan bahwa keteguhan untuk bertahan selalu menemukan jalannya. []









