Ide ceritanya muncul saat Denit sedang menonton video seorang food vlogger yang menjelajahi Taiwan.
“Kenapa ambil latar cerita di Taiwan? Taiwan jarang banget jadi latar cerita, kebanyakan kan Paris, London,” ujarnya.
Ia pun melakukan riset selama satu bulan sebelum menulis kisah Ratna, seorang penulis muda yang pergi ke Taiwan untuk menyelesaikan novelnya, dan Abi, seorang desainer grafis yang menemani Ratna selama berada di sana.
Namun, proses adaptasi dari AU yang berbasis chat ke bentuk narasi novel bukanlah hal mudah.
“Aku harus memutar otak untuk mengubah percakapan menjadi narasi yang enak dibaca,” jelasnya.
Ditambah lagi, sebagai mahasiswa baru, Denit menghadapi tantangan besar dalam membagi waktu antara kuliah dan menulis.
Harapan Besar untuk Literasi Anak Bangsa
Bagi Denit, menulis bukan sekadar berkarya, tetapi juga membawa misi.
Ia ingin meningkatkan minat baca anak muda Indonesia di tengah dominasi gadget.
“Buku nggak selalu membosankan, kok. Banyak cerita seru yang bisa bikin ketagihan baca.
Aku ingin buku fisik tetap hidup dan jadi bagian penting dalam membangun generasi yang cinta literasi,” ungkapnya penuh semangat.
Denit adalah bukti nyata bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkarya besar.
Dengan kerja keras, kreativitas, dan tekadnya untuk memajukan literasi Indonesia, ia terus menunjukkan bahwa anak muda juga bisa membuat perubahan.
Dengan novel-novelnya, Denit tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan inspirasi kepada generasi muda untuk mengejar mimpi mereka, sama seperti yang ia lakukan.
Jadi, siapkah kamu membaca kisah Ratna dan Abi di See You When I See You, Taiwan? Jangan lupa catat namanya—Denit Putri Audyna, penulis muda yang akan terus mencuri perhatian dunia sastra Indonesia. ( asrul )









