Jakarta – Di dalam sebuah ruangan, gema suara seorang penyiar tidak hanya berhenti pada gelombang udara; ia meresap ke dalam sanubari pendengarnya, merajut ingatan kolektif sebuah bangsa.
Suara emas itu pernah menjadi teman setia jutaan telinga di Indonesia, menghidupkan setiap detik ketegangan pertandingan olahraga hingga menyuarakan denyut kehidupan pedesaan. Suara itu milik almarhum Sambas Mangundikarta, figur legendaris yang hari lahirnya kini genap berusia satu abad.
Untuk mengenang sosok yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya bagi dunia media, sebuah perhelatan akbar bertajuk “100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta” digelar secara khidmat pada Senin, 19 Oktober 2026.
Bertempat di Auditorium Yusuf M. Ronodipuro, LPP RRI Jakarta, acara ini bukan sekadar sebuah seremoni seremonial belaka. Ia adalah sebuah persembahan tulus, pelukan rindu dari keluarga, kerabat, serta komunitas penyiar yang merindukan kemurnian etika dan marwah dunia penyiaran masa lalu.
Langkah menuju terselenggaranya acara ini digerakkan oleh kerja sama erat antara 17 panitia inti, dukungan penuh dari LPP RRI Jakarta dan Bank Indonesia, serta Tibis Sinergi Cendekia Consulting Firm.
Di bawah kendali tim pelaksana Tika Bisono dan Inge Sambas, acara ini memadukan kemeriahan luring dan teknologi live streaming daring demi menjangkau ribuan audiens dari berbagai penjuru tanah air hingga kalangan diaspora.
Perjalanan hidup Sambas Mangundikarta adalah sebuah roman perjuangan yang sejati. Lahir di Bandung pada 21 September 1926, langkah kakinya tidak hanya meniti panggung hiburan, tetapi juga medan laga revolusi.
Antara tahun 1946 hingga 1949, ia berdiri tegak sebagai bagian dari Radio Perjuangan Jawa Barat, berjuang di bawah komando Jenderal Dr. Moestopo. Dari Bandung, gelombang sejarah membawanya berpindah ke Madiun dan Blitar, mengikuti denyut denyar perang kemerdekaan yang dinamis.
Pengalaman di radio perjuangan itulah yang membentuk karakter baja pada diri Sambas. Ketika kedamaian berangsur pulih, ia memilih mendaratkan pengabdiannya di studio RRI pada tahun 1952.
Meskipun awalnya lekat dengan dunia musik, takdir membawanya menemukan panggilan sejati di kancah peliputan olahraga. Dengan gaya bertutur yang santai, akurat, dan penuh detail, ia menjelma menjadi narator ulung untuk pertandingan sepak bola dan bulu tangkis.
Masyarakat Indonesia tentu masih mengenang bagaimana ia menghidupkan suasana Lapangan Ikada, atau liputan bersejarah saat Indonesia menjuarai Thomas Cup pertama kalinya pada tahun 1961.
Ketika televisi pertama, TVRI, lahir pada tahun 1962 untuk menyiarkan Asian Games IV di Jakarta, nama Sambas langsung ditarik ke layar kaca. Liputannya merentang dari All England, Thomas Cup di Kuala Lumpur, hingga Pra-Piala Dunia di Singapura.
Bahkan, lewat program televisi “Dari Desa ke Desa” pada tahun 1983, ia turun langsung ke Brebes untuk melaporkan keberhasilan program peternakan lokal dengan bahasa yang sangat dekat dengan rakyat.
Dalam perayaan satu abad ini, suasana auditorium disulap menjadi ruang nostalgia yang sarat makna. Panggung dihiasi oleh penjor merah-putih, menyimbolkan jiwa nasionalisme yang membara serta penghormatan terhadap akar sejarah Radio Perjuangan.
“Perayaan 100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar – Tribute to Sambas Mangundikarta ini merupakan sebuah perayaan istimewa dan luhur, di mana seluruh narasumber dan artis pengisi acara menyuguhkan talk show tentang dunia penyiaran yang mumpuni dan persembahan lagu-lagu karya Sambas Mangundikarta yang sangat dikenal masyarakat pada jamannya; bahkan lagu Manuk Dadali begitu terkenal dan disukai masyarakat, sejak tahun 1962 sampai hari ini,” ungkap Ketua Panitia, Tika Bisono, dengan penuh semangat.
Acara yang dipandu oleh host Tika Bisono dan MC Isabella Fawzi ini menghadirkan sesi gelar wicara berbobot bersama para tokoh penting, seperti mantan Menpora Dr. Adhyaksa Dault, M.Si., Dr. M. Kabul Budiono, Yassir Den Has, S.H., dan Ir. Brigitta Isworo Laksmi.
Kemeriahan kian memuncak tatkala Fadhil Indra dan Inge Sambas membawakan alunan musik, disusul penampilan istimewa dari penyanyi legendaris Hetty Koes Endang yang mendendangkan tembang abadi Manuk Dadali.
Wakil Ketua Panitia, Heri Putranto, menambahkan bahwa misi luhur perhelatan ini adalah menghidupkan kembali legacy almarhum sebagai pahlawan penyiaran yang memberikan warna profesional bagi media Indonesia.
Meski Sambas telah berpulang pada 30 Maret 1999 dalam usia 73 tahun akibat gangguan pernapasan, dan kendati penghargaan tertinggi Lifetime Achievement Award 2022 dari KPI baru diserahkan kepada putrinya, Inge Sambas, beberapa tahun silam, kenangan tentangnya tak pernah lekang oleh waktu.
“23 tahun ayah sudah meninggal dan 23 tahun belum pernah ada yang memberikan Lifetime Achievement Award. Terimakasih dan saya berikan apresiasi tertinggi untuk KPI. Izinkan juga saya memberikan apresiasi kepada teman-teman almarhum ayah saya,” tutur Inge Sambas kala itu.
Estafet penghormatan ini dipastikan tidak berhenti di sini. Pada tahun 2027 mendatang, Pemerintah Daerah Bandung dan Subang bersiap melanjutkan gaung peringatan ini melalui perspektif kebudayaan Sunda, memastikan bahwa api semangat sang maestro akan terus menyala menerangi generasi masa depan. []








