Jakarta – Di sebuah studio kecil di Bogor, suara gitar meraung. Bukan sekadar latihan, bukan pula nostalgia. Itu adalah suara kebangkitan. Setelah hampir sepuluh tahun menghilang dari radar musik Indonesia, Joni Kemon kembali—dan ia tidak datang diam-diam. Ia datang dengan sirine menyala, lewat single baru berjudul Damkar (Pantang Pulang).
Lagu ini bukan hanya penanda kembalinya seorang rocker lama. Ia adalah pernyataan. Manifesto. Sebuah pengingat bahwa rock n’ roll belum mati, hanya tertidur sebentar. Dan kini, Joni membangunkannya dengan riff tajam, vokal penuh bara, dan drum yang menghentak tanpa kompromi.
“Semua saya kerjakan sendiri,” kata Joni, mengenakan topi khasnya, seperti biasa. Ia menulis, menggubah, memproduksi, bahkan mengarahkan proses kreatif dari awal hingga akhir. Untuk tahap akhir, ia mempercayakan mixing dan mastering kepada Riebrata di Sarkun Music Studio yang hasilnya keras, mentah, dan jujur.
Durasi lagu yang hampir empat menit terasa seperti perjalanan singkat ke dalam ruang mesin pemadam kebakaran, panas, bising, dan penuh tekanan. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Tidak ada yang rapi, tidak ada yang ditata manis. Ini adalah rock dalam bentuk paling murni, liar, hidup, dan tak terduga.
“Api dalam diri itu enggak boleh padam,” katanya.
Setelah bertahun-tahun vakum, ia kembali dengan energi yang lebih besar, lebih liar, dan lebih jujur. Ini bukan tentang mengejar tren. Ini tentang menyuarakan sesuatu yang tak bisa ditahan lebih lama.
Bagi penggemar lama, lagu ini adalah sapaan hangat dari masa lalu. Bagi pendengar baru, ini adalah pintu gerbang menuju katalog Joni yang pernah mengguncang lewat Titisan Rockstar, Blakblakan, dan Revolusioner. Tapi yang paling penting, ini adalah awal dari sesuatu yang baru. []









